BI Sebut Rupiah Kembali Menguat

oleh

Foto : Surya Alamsyah

Beritaklick.com | KENDARI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), menyebutkan bahwa sesuai dengan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah kembali menguat di awal minggu menjelang Pilpres dan Pileg.

Pada 15 April 2019, kurs dollar Amerika Serikat adalah sebesar Rp14.067, lebih rendah dari pada rata-rata kurs minggu sebelumnya yang sebesar Rp14.151 bahkan dari pada akhir bulan Maret 2019 yang mencapai Rp14.244. Menguatnya nilai tukar Rupiah tak lepas dari perkembangan positif beberapa faktor pada beberapa bulan terakhir.

“Hal ini dipengaruhi juga dengan cadangan devisa meningkat. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2019 meningkat menjadi 124,5 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan 123,3 miliar dolar AS pada akhir Februari 2019,” ungkap Tim Advisory dan Pengembangan KPwBI Sultra, Surya Alamsyah dalam keterangan resminya, Selasa (16/4).

Dia mengatakan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Peningkatan cadangan devisa pada Maret 2019 dipengaruhi antara lain oleh penerimaan devisa migas dan penerimaan valas lainnya. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Sementara itu, lanjutnya, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tetap terkendali, dimana ULN Indonesia pada akhir Februari 2019 tercatat sebesar 388,7 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 193,8 miliar dolar AS, serta utang swasta termasuk BUMN sebesar 194,9 miliar dolar AS.

“Posisi ULN tersebut naik 4,8 miliar dolar AS dibandingkan dengan posisi pada akhir periode sebelumnya karena neto transaksi penarikan ULN. Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 8,8% (yoy) pada Februari 2019, meningkat dibandingkan dengan 7,2 persen (yoy) pada bulan sebelumnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, peningkatan pertumbuhan ULN tersebut terutama bersumber dari pertumbuhan ULN pemerintah yang digunakan dalam pembiayaan sektor-sektor produktif. Kemudian struktur ULN Indonesia pada akhir Februari 2019 tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang yang memiliki pangsa 86,3 persen dari total ULN.

“Dengan perkembangan tersebut, meskipun ULN Indonesia mengalami peningkatan, namun struktur ULN Indonesia tetap sehat. Bank Indonesia dan Pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” pungkasnya. (*a/rs)