Dosen UHO Latih Tecnopreneurship Pemuda Putus Sekolah

oleh

Foto : Pose bersama, pemuda putus sekolah di Kelurahan Linomoiyo, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara (Konut) usai mengikuti pelatihan Tecnopreneurship.

Beritaklick.com | KENDARI – Tim pengabdian dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) memberikan pelatihan Tecnopreneurship kepada para pemuda putus sekolah di Kelurahan Linomoiyo, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara (Konut).

Pengabdian ini diketuai, Dr Asrip Putera SE MSi, sedangkan anggotannya yakni, Eliyanti Agus Mokodompit SE MSi, Isalman SE MSi dan Ilyas SE MSi.

Dr Asrip Putera mengatakan, pelatihan tecnopreneurship bagi pemuda putus sekolah bertujuan untuk memberikan peningkatan soft skill dan hard skill pemuda putus sekolah di Kelurahan Linomoiyo Kecamatan Oheo Kabupaten Konawe Utara. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh pemuda putus sekolah khususnya di Kelurahan Linomoiyo Kecamatan Oheo yakni kurangnya kreativitas, kurangnya keterampilan dan kurangnya kepercayaan diri sehingga sebagian besar pemuda putus sekolah menjadi pengangguran dan menjadi beban keluarga.

“Berbagai permasalahan tersebut menyebabkan pemuda putus sekolah relatif tidak bergairah, tidak bersemangat dan kurang memiliki keinginan untuk berbuat sesuatu yang lebih produktif dan mendukung kehidupan masa depan yang lebih cerah. Kami ingin ada soft skill dan hard skill yang mereka miliki,” ungkapnya, Senin (2/12).

Dr Asrip Putera mengaku, setelah melakukan pelatihan, ada sejumlah target yang telah dicapai seperti, meningkatnya peningkatan kreativitas pemuda putus sekolah, sehingga melahirkan ide-ide kreatif untuk berusaha. Kemudian, meningkatnya rasa percaya diri pemuda putus sekolah dalam bersosialisasi sehingga mampu bergaul dan mengembangkan networking dan meningkatnya keterampilan usaha pemuda putus sekolah sebagai bekal untuk membangun usaha.

“Jadi, pelatihan tecnopreneurship tersebut berisi tentang materi-materi yang memberikan kemampuan peningkatan kreativitas, rasa percaya diri dan peningkatan skill. Antusiasme peserta dalam menghadiri pelatihan tersebut relative cukup baik, hal ini dapat dilihat dari jumlah undangan yang disebar dengan jumlah masyarakat yang hadir. Jumlah undangan yang disebar sebanyak 20 undangan dan masyarakat yang hadir sebanyak 20 orang, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kehadiran masyarakat dalam pelatihan tersebut mencapai 100 persen,” bebernya.

Sementara itu, Isalman SE MSi menambahkan, disamping tingkat kehadiran yang cukup tinggi partisipasi masyarakat juga dapat dilihat dari keaktifan peserta pelatihan dalam memberikan pendapat, komentar dan pertanyaan terhadap materi yang disampaikan.

“Beberapa peserta bertanya lebih dari satu kali, hal tersebut dikarenakan peserta ingin mengetahui lebih banyak terkait dengan isi materi yang disampaikan, bahkan meminta kepada moderator untuk membuka beberapa sesi pertanyaan sehingga pada kegiatan tersebut yang direncanakan dibuka dua sesi tanya jawab menjadi empat sesi,” pungkasnya. (wan)