Melontar Jumrah Ujian Terberat Jemaah

oleh

Beritaklic.com | KENDARI – Jemaah haji baru saja menyelesaikan prosesi ritual haji di Arafah dan melontar jumrah dan telah kembali ke Mekkah. Prosesi melontar jumrah merupakan ujian terberat jemaah haji karena selain membutuhkan fisik yang kuat juga harus penuh kesabaran.

Sebelum berangkat ke Mina, jemaah terlebih dahulu mabit di Muzdalifah untuk mengumpulkan batu yang akan dilontarkan di Jamarat. Lewat tengah malam, jemaah diberangkatkan ke Mina menggunakan bus yang telah disediakan. Karena padat, jemaah yang diberangkatkan harus menunggu bus 1-4 jam.

Setiba di Mina, jemaah ditempatkan di tenda-tenda yang telah disediakan beralaskan karpet dilengkapi pendingin ruangan. Sebelumnya, jemaah tidur di hotel dengan kasur yang empuk kini harus rela hanya menggunakan karpet tanpa bantal dan berdempet-dempetan.

Setelah itu, jemaah menyiapkan diri untuk melontar jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijah. Khusus jemaah haji Indonesia, Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan pengumuman waktu-waktu tertentu yang dilarang untuk melontar karena padatnya jemaah dan untuk menghindari berdesak-desakan dengan jemaah dari negara lain.

Ujian terberat jemaah harus mempersiapkan kondisi fisik yang prima karena jarak yang di tempuh untuk melontar di Jamarat dari tenda penginapan pulang pergi sekitar 4 hingga 6 kilometer selama 4 hari.

Tidak jarang terlihat jemaah yang kelelahan dan harus dibantu berjalan dan sebagian menyewa kursi roda. Umumnya, jemaah bugar saat berangkat dari tenda, namun keletihan saat kembali ke tenda.

Melontar jumrah di lakukan pada hari-hari tasyrik 11,12 dan 13 Zulhijah. Jemaah dapat memilih untuk melakukan nafar awal yang hanya sampai 12 Zulhijah atau nafar tsani/akhir hingga 13 Zulhijah dengan melontar jumrah Ula, Wustha dan Aqabah. (rs)