Transformasi Digital UMK Melalui E-Commerce

oleh

Oleh: Riny Mustikawati (ASN Badan Pusat Statistik Prov. Sulawesi Selatan)

Beritaklick.com | Opini – Revolusi Industri 4.0 kini telah masuk seiring dengan transformasi proses bisnis yang cepat ke arah ekonomi digital.

Tak hanya perusahaan besar, Usaha Mikro Kecil (UMK) juga ditantang untuk siap bersaing di era Industri 4.0. UMK dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi yang ditandai dengan integrasi segala aspek ekonomi dalam jaringan internet.

Salah satu transformasi model bisnis di era Industri 4.0 adalah penggunaan platform e-commerce oleh pelaku ekonomi. Melalui e-commerse, segala aktivitas transaksi jual-beli barang, promosi, dan pembayaran dilakukan dengan menggunakan elektronik yang terhubung dengan internet.

E-commerce mengalami perkembangan cepat dengan kemudahan yang ditawarkan. Kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi mampu memangkas keterbatasan sarana, jarak dan waktu antara penjual dan pembeli.

Penjual tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa tempat dan mempromosikan produknya. Keuntungan lainnya adalah kemudahan berkomunikasi antara penjual dan pembeli. Ditambah dengan adanya financial technology, pembayaran menjadi lebih mudah dan cepat.

Di lain pihakterjadi perubahan perilaku belanja konsumen yang mulai beralih ke belanja secara online. Menurut pengamat perilaku konsumen, Yushowady, e-commerce mampu menyediakan kenyamanan, biaya murah dan efisiensi waktu.

Konsumen tidak perlu bersusah payah pergi ke toko untuk berbelanja dan melakukan transaksi secara langsung. Saat ini telah banyak bermunculan start up e-commerce dan marketplace yang memudahkan konsumen untuk berbelanja. Sebut saja Lazada, Tokopedia, Bukalapak dan lainnya.

Minat konsumen di Indonesia untuk berbelanja online semakin meningkat. Lembaga riset pasar, Nielsen Indonesia menyebutkan momen Harbolnas 2018 telah menghasilkan omzet mencapai hampir Rp7 triliun, lebih tinggi dibandingkan omzet tahun 2017 yang hanya mencapai Rp4,7 triliun.

Perkembangan e-commerce yang sangat pesat ini sejatinya dapat dinikmati oleh segenap masyarakat. Salah satunya adalah pelaku usaha UMK yang menjadi bagian terpenting dalam perekonomian di Indonesia. Berdasarkan Sensus Ekonomi 2016 (SE2016) jumlah usaha ini mencapai 98,89 persen dan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 85,29 persen dari total tenaga kerja nonpertanian di Sulawesi Selatan.

Namun, pemasaran menjadi kesulitan terbesar untuk industri mikro dan kecil (IMK) di Sulawesi Selatan. Hal ini terlihat dari hasil Survei Industri Mikro Kecil tahun 2017. Selain itu, produk IMK yang dihasilkan masih dipasarkan secara lokal, hanya 8 persen produk IMK yang dipasarkan ke luar kabupaten/kota.

Pelaku UMK diharapkan dapat melihat peluang digital untuk menyasar pasar yang lebih luas dengan memanfaatkan e-commerce. Dengan demikian, para pelaku UMK bisa meningkatkan produktivitas serta kesejahteraannya. Dan tidak menutup kemungkinan dapat mengekspor produknya ke luar kota bahkan luar negeri.

Permasalahannya, masih banyak pelaku UMK yang memiliki literasi digital rendah. Mereka memiliki pola pikir bahwa usahanya berskala kecil dan tidak membutuhkan pemasaran secara online. Berdasarkan SE 2016 pula diketahui hanya 7,07 persen UMK yang menggunakan internet untuk usahanya.

Sudah saatnya pelaku UMK memahami teknologi informasi, minimal bisa memanfaatkan gadget-nya untuk mengembangkan usaha. Mereka dapat berdagang melalui e-commerce ataupun marketplace. Untuk itu perlu adanya pelatihan yang aplikatif seputar dunia digital sehingga dapat mempercepat proses adaptasi pelaku UMK terhadap perubahan proses bisnis digital.

Peran pemerintah dan instansi terkait juga penting guna menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung pelaku UMK untuk memasuki pasar e-commerce. Pemerintah perlu membangun sistem direktori digital yang berisi kumpulan informasi para pelaku UMK.

Sistem tersebut perlu diintegrasikan dengan platform e-commerce atau marketplace yang ada di Indonesia. Untuk itu, pemerintah juga harus mendorong pengusaha e-commerce untuk bekerja sama dalam penyediaan tempat dengan memberikan slot khusus bagi pelaku UMK untuk memasarkan produknya.

Pemerataan ekonomi secara digital bukan mustahil dapat dicapai. Para pelaku usaha UMK bisa mempunyai peranan penting jika mampu bersahabat dengan kecanggihan teknologi. UMK telah membuktikan ketahanannya pada saat krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998 ketika perusahaan-perusahaan raksasa berjatuhan.

Dengan perkembangan e-commerce saat ini, beberapa usaha ritel besar telah merasakan dampaknya dengan terpaksa menutup tokonya dengan alasan efisiensi. Berkaca dari hal tersebut pengaruh disrupsi dari revolusi industri 4.0 dalam proses bisnis tidak mungkin lagi ditolak atau dihindari. Proses ini akan terus berjalan cepat di tengah kemampuan atau bahkan ketidakmampuan pelaku ekonomi untuk menepis dampak negatifnya.

Oleh karena itu, transformasi digital para pelaku UMK tidak bisa ditawar lagi. Hal ini perlu untuk meningkatkan kinerja usaha dan daya saing UMK itu sendiri sehingga tetap menjadi pilar yang kuat bagi perekonomian. (rs)